Menyelami Makna Hijrah (Sejarah dan Kemurnian Niat Dalam Hijrah)
Oleh : Drs. H. Usman Daud, MA
Konsultan Hukum Islam dan Keluarga
“…barang siapa yang hijrahnya karena untuk mendapatkan dunia atau karena seorang wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya tergantung kepada apa yang diniatkannya!” (HR. Bukhari Muslim)
Tidak dinafikan bahwa hijrah mengandung hikmah yang terlalu besar. Tidak akan habis untuk diungkap rahasianya dan tidak akan susut untuk digali perbendaharaannya. Penulisan ini mencoba untuk mengangkat hanya sekelumit daripada hikmah yang terkandung di sebalik peristiwa bersejarah itu. Hijrah berasal daripada kata kerja hajara bermaksud meninggalkan, memutuskan atau keluar dari sebuah negeri ke negeri yang lain. Atau meninggalkan apa yang dilarang menuju kepada apa yang dihalalkan Sebelum Fathu Makkah, hijrah ke Madinah, tempat terlaksananya kedaulatan Islam, diwajibkan ke atas seluruh Muslimin kecuali mereka yang mempunyai keuzuran tertentu. Selepas Makkah berjaya dikembalikan ke tangan umat Islam, manusia memasuki agama Allah berbondong bondong dan mereka telah bebas melaksanakan Islam serta mendirikan syiarnya di mana saja, maka tiada lagi keperluan untuk berhijrah ke Madinah.
Niat adalah maksud atau keinginan kuat didalam hati untuk melakukan sesuatu. Dalam terminologi syar'i berarti adalah keinginan melakukan ketaatan kepada Allah dengan melaksanakan perbuatan atau meninggalkannya. Niat termasuk perbuatan hati maka tempatnya adalah di dalam hati, bahkan semua perbuatan yang hendak dilakukan oleh manusia, niatnya secara otomatis tertanam didalam hatinya. Maksud hijrah dalam nas-nas di atas ialah hijrah dari Makkah ke Madinah. Umat Islam tidak lagi dituntut supaya meninggalkan Makkah dan berhijrah ke Madinah karena Makkah telah menjadi negara Islam dan tiada lagi halangan untuk mereka melaksanakan ajaran Islam dalam semua aspek kehidupan.
Asbabul Wurud Hadits di atas yaitu: Berkata Imam An-Nawawy: “Sesungguhnya telah datang keterangan bahwa sebab keluarnya hadits ini adalah tentang seorang lelaki yang berhijrah hanya untuk menikahi seorang wanita yang bernama Ummu Qois maka dia pun dipanggil dengan sebutan Muhajir Ummu Qois (Orang yang berhijrah karena Ummu Qois)”. Kisah Muhajir Ummu Qois ini diriwayatkan dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu bahwa beliau berkata : ”Barang siapa yang berhijrah untuk mengharapkan sesuatu maka sesungguhnya bagi dia hanya sesuatu tersebut. Seorang lelaki telah hijrah untuk menikahi wanita yang bernama Ummu Qois, maka dia pun dipanggil dengan nama Muhajir Ummu Qois”.
Seperti halnya kisah di atas, memang yang melakukan niat mendapatkan wanita tersebut tidak berdosa, karena bukan untuk amalan-amalan yang bersifat maqashid (shalat, puasa, zakat, haji dan umrah) dan bukan pula wasilah (seperti wudhu’, tayammum dan mandi wajib) akan tetapi yang mubah atau jawaz (yakni yang boleh dilakukan dan boleh pula tidak) akan tetapi amalan tersebut kosong pahala dan kosong ridho Allah. Akan tetapi jika amalan yang bersifat mubah atau jawaz tersebut ditambahi dengan niat karena Allah subhanahu wata’ala, maka nilainya akan bertambah karena akan dinilai dan dihitung sebagai ibadah. Di antara manusia ada yang niatnya sangat mulia, dan ada pula manusia yang niatnya sangat rendah dan hina. Kita akan dapati dua orang yang mengerjakan satu perbuatan yang sama sejak awal, pertengahan, dan akhir; sama dalam gerakan, tempat, perkataan, dan perbuatan, tetapi nilai amal keduanya sangat berbeda, seperti langit dan bumi karena adanya perbedaan dalam niat. Jadi urusan mendasar yang dapat kita tarik adalah bahwa tidak ada amal tanpa niat. Suatu amal itu muncul karena ada kehendak, kemampuan dan keinginan. Jika kamu berniat karena Allah dan akhirat dalam amal syari’atmu, maka kamu pasti akan mendapatkannya, jika kamu berniat untuk mendapatkan dunia, kadang kamu akan mendapatkannya dan kadang juga tidak.
Sebenarnya hijrah mempunyai dua pengertian: hijrah secara fisik dari satu negeri ke negeri yang lain, dan hijrah dengan hati kepada Allah dan Rasul-Nya. Inilah hijrah yang hakiki yang menjadi penopang kepada hijrah jasmani. Perkataan hijrah mengandung tuntutan akan kemurnian dan ketulusan baik secara lahir maupun batin. Jadi hijrah hati bermaksud berhijrah daripada cinta kepada selain Allah kepada cinta kepada Allah, daripada ubudiah kepada makhluk kepada ubudiah kepada Allah, daripada takut, berharap dan bertawakkal kepada selain Allah, berharap dan bertawakal kepada-Nya. Hijrah kepada Allah ialah dengan meminta, mencintai, menghambakan diri, bertawakal, takut dan mengharap hanya kepada-Nya. Dan hijrah kepada Rasul ialah dengan mengikuti syariat yang dibawanya dalam semua aspek, lahir dan batin. Maka hijrah yang dituntut pada masa kini ialah: Jihad fi sabilillah dengan niat yang ikhlas sebagaimana sabda baginda Nabi; “Tidak ada hijrah selepas Fathu Makkah, tetapi jihad dan niat. Maka apabila kamu dikerah untuk berjihad, segeralah menyahutnya.” Dan Taubat nasuha dengan meninggalkan segala kejahatan dan dosa sebelum matahari terbit dari arah barat. “Tidak terputus hijrah sehingga terputus (peluang) bertaubat, dan tidak terputus (peluang) bertaubat sehingga matahari muncul dari arah barat.” (Ahmad dan Abu Daud). Wallahu waliyyut Taufiq
Sumber : Yatim Mandiri September 2019

Belum ada Komentar untuk "Menyelami Makna Hijrah (Sejarah dan Kemurnian Niat Dalam Hijrah)"
Posting Komentar