Mengapa Anak Kecanduan Gawai


Oleh : Ani Christina, S.Psi.
(Trainer dan Penulis di Griya Parenting Indonesia, dan Konselor SMA Al Hikmah Boarding School Batu)

Salah satu candu paling populer di dalam gawai (handphone) adalah games. Anak-anak bisa bertahan berjam-jam memainkannya. Saya pernah mendampingi kasus anak-anak yang kecanduan ‘online games’, dari seri Counter Strike, Point Blank, PUBG, dan jenis e-sport Mobile Legend. Games memang didesain industri untuk menjadi candu. Adanya reward, kenaikan level, pengaturan pencapaian prestasi, akan membuat ingin bermain terus. Kabar tentang anak yang tantrum, sampai membenturkan kepalanya ketika dilarang bermain games sudah sering kita dengar. Gawai juga mengandung obyek candu lawas, yaitu cerita. Gawai di tangan generasi millenial memicu banyak kaum muda kecanduan anime Jepang atau serial drama Korea dengan mengakses berjam-jam sampai tidak tahu waktu. Ini tidak begitu berbeda dengan kecanduan sinetron, karena intinya penggemar terjebak untuk terus mengikuti kisah-kisah seru yang diproduksi industri hiburan. Tidak terkendalinya minat terhadap obyek candu ini, bisa nampak dengan menurunnya prestasi anak karena kacanduan anime karena menyita waktu yang seharusnya untuk belajar.

Kecanduan gawai makin marak dengan fasilitas media sosial di dalamnya. Facebook, Twitter, Whatsapp, Instagram telah menjadi aplikasi yang membuat sebagian penggunanya mengalami kecanduan. Gejalanya tidak bisa lepas dari aktivitas bermedia-sosial. Tiap menit tidak terlewat menengok update di media sosial. Kecanduan tayangan video menjadi jenis kecanduan gawai yang juga meningkat jumlahnya, karena pernah diberitakan anak-anak tantrum gegara kuota habis sehingga tidak bisa membuka aplikasi youtube. Anak-anak usia SMP dan SMA juga mulai diberitakan kecanduan tayangan pornografi di gawainya. Kecanduan pornografi inilah yang sering dikaji bisa menyebabkan kerusakan otak dalam berpikir logis.

Kembali pada pertanyaan mengapa kecanduan gawai bisa terjadi? Tentu saja jawabannya tidak bisa sesederhana uraian sebelumnya, bahwa memang di dalam gawai banyak obyek candu yang membuat anak bisa tidak terkendali jika sudah terpapar. Kecanduan sejatinya adalah kondisi saat seseorang tidak memiliki kendali atas apa yang mereka lakukan, ambil atau gunakan, bisa merujuk pada ketergantungan zat atau kecanduan perilaku. Jadi, akar masalah kecanduan selalu mengacu pada ketidakmampuan dalam mengendalikan diri. Maka pertanyaan selanjutnya, mengapa anak sulit mengendalikan diri terhadap gawai? Berikut ini beberapa kemungkinan penyebabnya.

Kurang Optimalnya Tata Aturan dan Tata Kelola Gawai di Rumah
Manusia memiliki tali pegangan agama agar bisa mengendalikan hawa nafsunya. Negara membangun peraturan dan masyarakat punya norma agar semua orang tidak seenaknya sendiri. Manusia hidup butuh pedoman dan aturan. Rumah menjadi lokasi tersemainya kecanduan gawai, maka secara khusus, anak-anak kita memerlukan tata aturan dan tata kelola gawai di rumah. Anak-anak yang kecanduan gawai, biasanya terkondisi berada di rumah yang tidak dibangun aturan dalam bergawai. Atau memiliki aturan tapi sering tidak ada kontrol sehingga anak kebablasan. Orangtua dengan mudahnya memberikan fasilitas gawai tanpa kesepakatan penggunaan. Orangtua kurang konsisten kapan dan di mana gawai boleh dipegang anak. Orangtua tidak berdaya menangani sikap marah anak ketika dilarang bergawai, kemudian mengijinkan kembali. Orangtua mudah menyerah dengan rayuan anak untuk terus boleh bergumul dengan gawainya.

Belum Tersedianya Jadwal Berbasis Aktivitas Non Gawai Secara Terstruktur
Saat orangtua menyita gawai sebagai solusi atas kecanduan yang mulai terasa, anak-anak akan bingung. “Trus aku pulang sekolah ngapain. Trus kalo aku libur sekolah ngapain.” Seolah-olah tidak ada kegiatan selain menggunakan gawai. Menyusun jadwal anak tanpa gawai memang merepotkan. Kadang kita juga tidak punya ide, sehingga kemudian menyerah dan memberikan ijin akses gawai kembali hanya dengan ancaman palsu, “Sebentar aja lho. Áwas, nggak boleh lama.” Padahal jika kita melakukan eksplorasi alam, masih banyak kegiatan yang seru dan asyik bagi anak.

Dinamika Rumah Tangga dan Pengasuhan yang Kurang Kondusif
Ayah yang jarang di rumah, Mama yang sibuk bekerja sehingga kurang perhatian pada anak. Papa yang bisanya cuma main perintah dan melarang Mama ngomel-ngomel. Bapak yang sulit memahami “aku mau apa” dan “ibu yang tidak sadar apa yang sedang kurasakan”. Belum lagi kedua orangtua yang selalu beda pendapat, bertengkar, dan kemudian memerahi anak-anaknya. Kondisi-kondisi semacam ini membuat anak tidak betah untuk berada di rumah dan kemudian sulit menaati apa yang dinasihatkan orangtua. Gawai yang memiliki daya pikat hiburan tinggi menjadi pilihan pelarian rasa tertekan dalam diri anak. Tentu saja lebih baik menghibur diri dengan gawai daripada merasakan penatnya situasi rumah seperti ini.

Filter Budaya Keluarga Belum Kokoh Sehingga Terpengaruh Industri Berbasis Gawai
Industri gawai memang didesain untuk membuat kita menjadi konsumtif terhadap apa saja yang ditawarkan, mulai dari berbagai macam kecanggihan perangkat, menariknya berbagai macam fitur, dan asyiknya konten-konten di dalam gawai. Semuanya menjadi sumber kecanduan ketika filter pengendalian diri tidak berjalan. Keluarga yang diharapkan sebagai penyaring perilaku konsumtif gawai belum berjalan seperti harapan. Orangtua masih banyak beranggapan biarlah anak berkembang seiring berjalannya waktu. Membesarkan anak tanpa visi yang jelas. Juga tanpa pola pengasuhan yang dibangun dengan serius. Keluarga yang tidak menerapkan filter terhadap dampak gawai tanpa sadar membiarkan anaknya menikmati fasilitas teknologi hanya demi mengikuti trend yang sedang berkembang. Mengetahui mengapa anak kecanduan gawai menjadi langkah penting, karena dari titik inilah solusi bisa kita rumuskan selanjutnya.

Sumber : Al-Falah September 2019

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Mengapa Anak Kecanduan Gawai"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel