Mengatasi Tantrum (Marah) Pada Anak
Tantrum atau yang dalam istilah psikologinya disebut sebagai ‘temper tantrum’, diartikan sebagai perilaku marah pada anak-anak, biasanya di usia prasekolah (2-3 tahun). Pada usia ini, tantrum atau amukan dapat dianggap sebagai normal, bahkan sebagai pengukur dari kekuatan pengembangan karakter. Mereka mengekspresikan kemarahan dengan berbaring di lantai, menendang, berteriak, dan kadang-kadang menahan napas. Tantrum terjadi karena anak-anak di usia ini belum mampu menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan rasa frustasi dan kesal karena tidak mendapatkan apa yang diinginkan.
Pada dasarnya tantrum, tidak selalu negatif. Berikut adalah alasan mengapa tantrum sebenarnya bermanfaat positif.
1. Tidur lebih nyenyak. Gangguan tidur dapat terjadi ketika kita sebagai orang tua menganggap tantrum harus dihindari. Membiarkan anak mengalami tantrum sampai ia tenang akan meningkatkan rasa tenang sehingga ia pun bisa tidur nyenyak di malam hari.
2. Berkata “tidak” adalah hal baik. Anak bisa menjadi tantrum karena orang tuanya berkata “tidak” pada permintaannya. Itu adalah hal yang baik. Berkata “tidak” akan memberi anak batasan tentang perilaku yang baik dan tidak.
3. Membuat lebih dekat. Ketika anak sedang mengamuk dan meminta orang tuanya pergi, sebenarnya ia sangat menghargai jika Anda tetap di sampingnya. Dengan Anda tetap disampingnya anak akan merasa ia diterima apa adanya dan itu membuatnya lebih dekat dengan orangtuanya.
4. Mengatur emosi. Terkadang emosi anak keluar dalam berbagai cara, misalnya agresi, sulit berbagi, atau menolak melakukan perintah sederhana seperti menyikat gigi. Ini adalah beberapa tanda si kecil sedang kesulitan dengan emosinya. Mengalami ledakan emosi seperti tantrum membantu anak melepaskan perasaan sehingga ia pun bisa memahami dirinya.
Mengatasi anak tantrum:
1. Beri anak ruang. Beri dia ruang kesempatan untuk meluapkan emosinya, tapi jangan jauh-jauh dan tetap awasi dia.
2. Tunjukkan empati. Hindari mengekang balita saat tantrum, apalagi mencubit atau memukul. Beri ananda pelukan lembut sambil membisikkan kata-kata yang menenangkan. Bentuk suasana positif dan tunjukkan empati Anda kepadanya, misalnya dengan mengatakan, “Adik marah ya, mainannya diambil teman? Nanti kita bujuk dia untuk mengembalikannya, ya.”
3. Pastikan anak aman. Jauhkan ananda dari benda-benda yang membahayakan, terutama bila dia berguling-guling di lantai atau memukul-mukul.
4. Pahami anak. Kenali keinginan dan kebutuhan ananda bila bepergian. Dia mungkin tantrum karena capek, atau kelaparan. Jadwalkan kegiatan sebelum pergi mengacu pada kemampuan dan kebutuhan anak.
5. Sabar dan tenang. Jangan memarahi ananda saat tantrum. Kalau perlu menjauh sebentar, tarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri sebelum menghadapinya. Sekali lagi, sabar & tenang.
Tantrum Manipulatif
Anak juga terkadang menangis hingga meraungraung supaya keinginannya terpenuhi. Ini adalah gejala tantrum manipulatif. Segera koreksi perilakunya karena ini bukan fase perkembangan psikologis yang normal.
Berikut 4 cara mengatasi anak tantrum manipulatif:
1. Tetap sabar. Hindari seketika menuruti atau malah langsung menolak keinginan anak. Pahami lebih dulu keinginannya. Jika permintaan anak Anda rasa wajar, Anda bisa memenuhi permintaannya. Beri jeda antara saat anak meminta dengan saat Anda memenuhi permintaannya untuk melatih kesabaran anak.
2. Hindari mengumbar janji. Anak selalu ingat janji Anda dan akan selalu menagihnya hingga terpenuhi. Selain itu memberi janji tanpa menepati akan mengajarkan anak untuk ingkar janji.
3. Perhatikan tingkah dan tangis anak. Saat mulai menangis karena keinginannya tidak terpenuhi, perhatikan tingkahnya serta gaya tangisannya. Anda tentu akan tahu perbedaan tangisan anak yang tulus dengan tangisan anak yang manipulatif.
4. Ajarkan disiplin. Berikan time out bila anak mulai bertindak destruktif, misalnya jika anak mulai merusak barang-barang di sekitarnya. Masukkan dia ke dalam kamar, jelaskan bahwa dia tidak boleh merusak dan baru boleh keluar dari kamar setelah tenang. Jika tidak berhasil, peluk anak dan jelaskan bahwa perilakunya tidak bisa diterima dan bahwa apa yang Anda lakukan adalah bentuk cinta Anda padanya.
Diperlukan ketegasan, ketenangan, dan konsistensi saat menghadapi anak yang tantrum manipulatif. Jangan lupa, minta dukungan anggota keluarga lain, seperti suami, nenek, kakek dan lainnya, untuk tegas terhadap anak saat mulai tantrum manipulatif.
Sumber : Yatim Mandiri November 2018


Belum ada Komentar untuk "Mengatasi Tantrum (Marah) Pada Anak"
Posting Komentar